Duka menyelimuti keluarga besar Ray Sahetapy yang tiba di rumah duka Sentosa RSPAD, Senen, Jakarta Pusat, pada Rabu pagi. Tiba sekitar pukul 08.30 WIB, raut kesedihan begitu kentara di wajah mereka. Mata mereka tampak sembab, dan tak satu pun dari mereka bersedia memberikan komentar kepada awak media. Suasana di sekitar rumah duka dipenuhi karangan bunga ucapan belasungkawa, termasuk dari Ahmad Mahendra, Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, serta Komunitas Artis Peduli, CNIOR. Ray Sahetapy menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa malam pukul 21.05 WIB, di usia 68 tahun. Jenazah aktor legendaris ini rencananya akan dimakamkan setelah putranya, Surya Sahetapy, tiba dari Amerika Serikat.
Kondisi kesehatan Ray dilaporkan mengalami penurunan dalam satu bulan terakhir. Sebelum berpulang, ia berjuang melawan stroke yang disebabkan oleh diabetes. Perjalanan seni perannya dimulai sejak membintangi film Gadis (1980) karya Nya’ Abbas Akup. Namanya semakin dikenal setelah tampil di Noesa Penida, yang membawanya masuk nominasi Aktor Terbaik di Festival Film Indonesia 1989. Meski usianya kian bertambah, Ray tetap aktif berkarya hingga tahun-tahun terakhir hidupnya. Beberapa film yang masih menampilkan perannya antara lain Nagabonar Reborn, Darah Daging (2019), Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, 100 Persen Halal (2020), serta Jin Khodam dan Kutukan Peti Mata (2023). Wafatnya Ray Sahetapy merupakan sebuah kehilangan yang mendalam bagi industri perfilman Indonesia. Karya dan dedikasinya akan selalu dikenang oleh para penggemar dan insan perfilman tanah air.